Dari Badik Ke Literasi: Jawaban Tatangan Zaman

Tak sengaja, saya mendengar kabar dari salah seorang teman bahwa ia menyabik badik di pinggangnya. Katanya badik itu, ia gunakan untuk menjaga siri‘nya.

Gambaran diatas adalah salah satu dari fakta budaya pengaplikasian budaya siri’ belakangan ini yang condong negatif. Tentu saja tanpa mengatakan siri dalam artian positif itu tidak ada seperti siri‘ karna kurang ekonomi_ sehingga akhirnya kita memutuskan keluar rumah atau merantau untuk meningkatkan sumber daya ekonomi keluarga serta beberapa contoh yang positif lainnya.

Sebagaimana realitas masyarakat Bugis-Makassar, bahwa kita sering mendengar orang-orang bugis saling tikam karna menghidupkan budaya siri. Atau ketika salah satu geng lorong yang disempal dengan kata-kata tak pantas, lalu ia memanggil satu gengnya untuk membalas orang-orang tersebut, dengan atas nama siri’. “Dipakasirikki anak-anakke”. Mereka dengan gagah berani mengambil badik lalu saling beradu sebagai sebuah simbol dari pemaknaan atas nama budaya siri‘. Pertanyaannya apa yang kita dapatkan dari saling menikam?

Padahal, realitas zaman kita sebagaimana dipahami bahwa zaman anak muda milenial sekarang ini terhubung oleh kondisi yang serba digital ini (Revolusi Industri 4.0). Meski sebenarnya, tak begitu adil membandingkan dengan kemajuan bangsa lain soal literasi mereka, yang sedang bersiap menerima dan merancang revolusi industri 5.0 dengan berbagai maanfaat yang akan mereka tuai.

Tentu saja, penegakan siri‘ melalui badik lalu mengindahkan pertikaian atas nama clan atau kelompok, bukan sebuah karya dan bukan pula jawaban yang pas sebagai cara untuk menghidupkan semangat budaya siri’. Sebab kondisi yang serba digital memaksa kita untuk hadir melahirkan sebuah karya yang sejalan dengan perkembangan zaman. Sementara, melalui karya positiflah kita akan besar dan hidup lebih lama diantara pertarungan yang tak sehat ini. Lalu apakah badik akan selalu menjadi simbol penegakan siri’ di tengah revolusi Industri yang semakin maju ?

Kita juga bukan bermaksud menghilangkan budaya di tengah arus revolusi industri, tetapi penempatan posisi badik sebagai icon siri‘ adalah sebuah keharusan dalam menjawab tantangan zaman. Untuk itulah, siri’ sebagai icon budaya perlu ditempatkan pada posisi yang searah dengan kemajuan zaman.

Literasi: Jawaban

Literasi adalah kemapuan dalam membaca dan menulis, yang juga menjadi salah satu pilar dalam mengembangkan dan membangun sumber daya manusia. Tanpa literasi manusia tentu saja akan mengalami degradasi dan kemunduran.

Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kondisi di era rovolusi industri saat ini, tentu saja kegiatan membaca dan menulis tidak saja berjalan lambang bagi perkembangan kemajuan manusia sendiri, kita juga harus memperhatikan kemampuan memahami data, teknologi dan manusia itu sendiri. Tanpa semua ini dapat dipastikan, tingkat kemajuan kita sebagai manusia Bugis-Makassar akan terus menurun.

Padahal Sulawesi Selatan pada mulanya, dikenal salah seorang tokoh besar “Karaeng Pattingalloang” yang telah berhasil menghadirkan literasi yang begitu cepat dan maju di zamannya. Bukti lainnya, hanya terdapat di Sulawesi Selatan kita bisa melihat bagaimana epicknya karya sastra La Galigo yang begitu tebal seantero karya di dunia. Ini menandakan Sulawesi Selatan pada masanya bukan tidak mengenal yang namanya membaca dan menulis. Apalagi disebut buta akan tulisan dan bacaan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah cukup membaca dan menulis saja yang diperlukan dalam menegakkan budaya Siri‘? Tentu, badik akan kehilangan maknanya di tengah revolusi industri 4.0 ini. Bagaimana mungkin badik dijadikan pulpen, sementara darah menjadi tintanya ? Disatu sisi membaca dan menulis saja belum cukup terlebih lagi penggunaaan badik sebagai simbol penegakan budaya siri‘, tentu saja tidak begitu relevan di zaman kita.

Sekarang, bagi generasi milenial Bugis-Makassar, patuhkah kita kembali mengambil badik sebagai simbol penegakan siri‘? akankah selalu badik akan menjadi simbol penegakan siri’ di tengah revolusi industri 4.0.? tentu jawabannya ada pada kita semua, apakah kita akan meliterasi (berkarya) melalui revolusi industri atau mengambil badik untuk mengukir sejarah di zaman ini? semuanya bertumpu pada kesadaran pemuda.

Untuk merengguk kembali kemajuan literadi suku Bugis-Makasar seperti di masa Karaeng Pattingalloang yang sejalan dengan semangat literasi di zaman ini, diperlukan peran milenial Bugis-Makassar. Sebab tanpa pemuda(i), apalah arti sebuah ingatan sejarah prihal kecemerlangan di masa lalu, tanpa ada sebuah kesadaran?

Tak perlu membangun gerakan terorganisir terlebih dahulu, cukup dengan kesadaran diri. Dimulai dengan membaca satu judul buku atau menulis pengalaman diri setiap hari. Yah barangkali kita akan ketinggalan oleh pesatnya revolusi industri yang semakin maju. Yang tanpa menyapa pemuda(i) suku Bugis-Makassar.

Tetapi dengan membaca akan melahirkan kesadaran lanjutan, kita ini sedang berada jauh di belakang revolusi industri saat ini. Dengan begitu, kita akan mencoba membaca tuntutan literasi di tengah revolusi industri yang semakin maju.

 

Penulis: Supardi, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Mungkin Anda Menyukai