Duka Sang Pengelana

 

Matahari di langit negeri seketika redup
Rembulan tak berani lagi mengintip
Perlahan namun pasti
Dia menepi disebuah gubuk kecil yang usang
Dulu dia adalah raja untuk negeri
Namun kini menjadi jelata yang terabaikan
Laksana buih dilautan
Seketika menjadi onggokan-onggokan daging tak berdosa

Acap kali mengintip dijendela kamarnya
Harap-harap bumi lekas membaik
Namun yang nampak
Hanyalah rintihan-rintihan pilu yang terabaikan
nampak miris namun ini fakta
Onggokan-onggokan daging yang sedang berkelana itu
Seakan bersimpah dalam duka
Tidur tak nyaman
Duduk terasa sulit
Berjalan namun tak sanggup
Hingga onggokan-onggokan itu perlahan lapuk

Wahai Negeri
Aku turut berduka atas dirimu
Tangan-tangan jahat kini telah melukaimu
Mengisahkan pilu dalam dukamu
Kawan-kawanmu kini berderai air mata
Namun tak kuasa membantumu
Sebab mereka seakan hidup dalam lingkaran api
Melangkah takut
Diampun tak kuasa
Kini mereka sekan menjadi burung dalam sangkar yang hanya disuguhi harapan-harapan.

Wahai Negeriku,
Lekaslah membaik
Kawanmu kini rindu akan kesembuhan lukamu
Sebah mereka hanya ingin hidup dalam damai.

Penulis: Kurniawati G., Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar