Bukan Covid-19 Yang Menyebabkan Kematian

Sudah lebih dari 4 bulan lebih lamanya. Wabah virus corona atau yang lebih dikenal dengan Covid-19 ini melanda seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia. Semenjak kemunculan virus ini kota Wuhan, China, wabah ini sudah menjadi pandemi di seluruh dunia hingga hari ini. Khususnya di Indonesia, pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan berbagai cara supaya penyebaran virus ini dapat segera di akhiri agar angka kasus penularan bahkan kematian tidak muncul dan ditemukan lagi.


Sampai hari ini, penambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia masih semakin bertambah. Meskipun penambahan kasus ini tidak lagi dibarengi dengan angka kematian yang cukup besar di awal-awal penyebarannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebagian ahli kesehatan, bahwasannya keganasan virus tersebut sudah mulai mereda. Artinya, virus corona tidak lagi terlalu mematikan seperti awal-awal kemunculannya. Hal ini dibuktikan dengan perbandingan antara lebih tingginya jumlah pasien terpapar virus corona yang sembuh daripada yang meninggal dunia.


Ditengah masih mewabahnya virus corona atau Covid-19 ini, muncul spekulasi bahwasannya bukan Covid-19 yang menyebabkan kematian. Mengapa demikian, bukankah pernyataan-pernyataan baik dari pemerintah maupun media menuliskan bahwasannya kematian pasien-pasien positif Covid-19 disebabkan oleh virus tersebut. Bahkan dunia saja, seperti di China, Amerika, Italia, Spanyol, bahkan Indonesia sendiri mengakui bahwasannya kematian tersebut disebabkan oleh virus corona atau Covid-19 ini.


Menurut spekulasi saya sendiri, setiap orang yang meninggal tidak disebabkan oleh apapun kecuali karena memang ajalnya yang sudah tiba. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf ayat 34 yang artinya, “Dan setiap umat mempunya ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah mengatakan bahwasannya setiap dari manusia sudah ada ajalnya masing-masing. Apabila seseorang meninggal, berarti ia sudah kedatangan ajalnya, tetapi apabila dia masih hidup, berarti ajalnya saja yang belum datang. Berbicara tentang kapan ajal manusia, tentu saja hanya Yang Maha Kuasa yang lebih tau. Apabila sudah saatnya, siapapun bisa meninggal baik dalam kondisi sehat maupun sakit.


Sedangkan menurut kajian kejiwaan, saya berspekulasi bahwasannya wabah virus corona atau Covid-19 ini telah menciptakan rasa ketakutan yang luar biasa kepada setiap orang. Bagaimana tidak, di awal-awal kemunculannya, media televisi, koran, media sosial, dan sebagainya dipenuhi oleh pemberitaan mengenai pandemi global ini. Orang menjadi takut keluar rumah, bila keluar harus memakai masker. Orang takut berkerumun, dengan senantiasa menjaga jarak yang lebih dikenal dengan psysical distancing serta social distancing atau pembatasan sosial. Dari hal ini, kita melihat adanya sebuah ketakutan yang luar biasa, takut terpapar virus, takut mati, atau sebagainnya. Pertanyaannya kenapa harus takut? Padahal setiap kita sudah memiliki waktu ajalnya masing-masing, yang harus kita lakukan adalah berbuat sebanyak mungkin untuk mempersiapkan bekal setelah ajal itu datang. Karena apabila ajal sudah datang, maka terputuslah hubungan kita dengan dunia yang fana ini dan bersiap untuk menghadapi kehidupan akhirat yang abadi.


Berbicara soal ketakutan, Franklin D. Roosevelt mengatakan bahwa, “satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah rasa takut itu sendiri”. Artinya disini, kita tidak seharusnya takut dengan virus tersebut, justru yang kita harus takutkan adalah ketakutan itu sendiri. Menurut spekulasi saya, orang yang sehat hari ini yang lalu kemudian sakit terpapar Covid-19 disebabkan oleh karena dia merasa takut sakit. Begitu juga dengan orang yang sudah sakit akibat Covid-19 yang lalu kemudian mengalami kematian, juga sebabkan oleh karena ia takut mati. Namun jika sebaliknya orang yang sehat yang selalu yakin ia sehat dan tidak takut sakit pasti ia akan sehat dan tidak sakit, begitu juga dengan orang yang sudah sakit lalu kemudian ia akan sembuh dan tidak takut mati, pasti kemudian ia akan sembuh dan segera pulang. Hal ini sama artinya dengan pemikiran positif akan menghasilkan sesuatu yang positif dan sebaliknya, pemikiran negatif akan menghasilkan sesuatu yang negatif. Bukanlah setiap pribadi kita adalah cerminan dari pemikiran kita sendiri.


Dalam hal ini, saya menemukan bagaimana pengalaman pasien yang sudah terpapar virus corona lalu kemudian ia sembuh. Dari mereka saya mendengar bahwasannya di dalam masa perawatan dan isolasi, ia bercerita bahwasannya ia hanya berfikir bahwasannya ia akan sembuh dan segera pulang. Jika ia berfikir demikian, tentu saja ia akan berusaha untuk berbuat supaya ia cepat sembuh. Seperti halnya menjaga pola makan, hidup bersih, olaraga, mengisi waktu dengan hal-hal positif dan lain-lainnya. Sebaliknya, jika disaat ia sudah sakit, lalu hanya memikirkan rasa takut, takut meninggalkan keluarga, takut mati, dan sebagainya , hal ini tentu saja akan mendatangkan hal-hal yang tidak baik, sehingga ia tidak menjalankan pola-pola hidup sehat dan bersih seperti di atas. 


Jadi, kesimpulannya adalah sebab sebenarnya kematian bukanlah akibat Covid-19. Jika memang, ini bukanlah faktor tunggal. Akibat sebenarnya adalah memang ajalnya yang sudah tiba. Ajal tidak tau kapan akan datang, namun dari sekarang kita sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kedatangannya. Yakni dengan menjalankan perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.


Akibat lainnya adalah rasa takut yang berlebihan, sehingga pemikirannya hanya berputar soal rasa takut. Lalu kemudian rasa takut inilah yang kemudian mengalahkan kita dan menyebabkan kematian. Padahal jika kita berani dan tidak takut, maka kita akan mampu memerangi virus ini dengan berbagai cara. Kita adalah cermin dari pemikiran kita. Hal ini dapat dipahami bahwasannya tidak seharusnya kita terlalu menciptakan rasa ketakutan yang berlebihan pada diri kita sendiri. Namun, disamping itu tentu kita juga harus selalu waspada dengan mengikuti pola hidup sehat dan bersih. Dengan demikian, semoga virus corona atau Covid-19 segera menghilang dan jauh dari kita semua. Amin.

Penulis: Setrio Hardinata,  Mahasiswa Tadris IPS-Sejarah,  UIN Imam Bonjol Padang