Puisi-puisi Aris Setiyanto

Revolusi

Telah gagah, aku
Tapi sepatu buah hatinya
Saban siang menikahi jalan aspal
Yang panas dan bakar asanya
Maka ia berlubang
Menjadi luka yang merenggut langkah

Rakyat negara mafhum maka
Di antara mereka, tetiba
Jadikan aku seorang pelamun
Disisipkan berlembar-lembar merah
Di saku kiri aku di dekat nama
Meluaskan lubang hati aku

Tepuk pundakku dengan tangan lembutmu
Ingatkan aku rumah yang ramah
Hari ini ayah pulang larut
Tanpa sepatu baru
Tapi hatinya sama sekali
Tak dapat dikotori

 

 

Ksatria

Pukul 21:00 di keramain aku hilang
Di cafe dengan remang musik
Ketika pertama kali membuka hati
Seorang berhormat-hormat

Mana kan kau pilih?
Selamatkan mimpi atau orang gila
Yang garong uang—yang juga butuh makan
Butuh hidup menghidupi

Lencana mentah berdarah-darah
Ditiupkan ruh ke dalam jiwa malang
Lewat tangan-tangan mungil
Paling teduh

Esok nama kau-aku tersiar
Menjadi wajah berita
Di perkumpulan di jam 21:00 berikut
Mendadak, jadi pusat.

 

 

Penulis : Aris Setiyanto,  seorang fans JKT48 yang hobi menulis. Berdomisili di Temanggung, Jawa Tengah. Juga memiliki buku puisi yang berjudul, “Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas”.

Mungkin Anda Menyukai