Mengenang Sosok Sapardi dan Dua Puisi Fenomenalnya

Sastrawan legendaris Indonesia, Sapardi Djoko Damono menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Eka, BDS, Tangerang. Minggu 19/07/2020.

Kepergian sosok sastrawan kebanggaan masyarakat tersebut tentunya meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi para penikmat seni maupun khalayak pada umumnya.

Beliau juga dikenal sebagai pencipta puisi dengan hal-hal yang sederhana tetapi memiliki makna yang sarat akan nilai kehidupan.

Terdapat banyak karya yang telah diciptakannya, puisi-puisinya yang begitu menggugah jiwa membuatnya pula digemari oleh seluruh lapisan masyarakat dan menjadi panutan bagi para sastrawan Indonesia.

Berikut ini dua karya darinya yang termasuk dalam karya fenomenalnya dan paling banyak digemari oleh masyarakat.

1. Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu.

Puisi ini menjadi paling fenomenal, bahkan kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” telah dialih bahasakan ke empat bahasa yakni Inggris, Jepang, Arab, dan Mandarin.

2. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi ini termasuk dalam kumpulan pad buku puisi “Hujan Bulan Juni” dan menjadi salah satu karyanya yang sangat terkenal. Bahkan, puisi ini beralih wahana menjadi lagu atau musikalisasi puisi.

Itulah dua karya dari sastrawan fenomenal yang biasa di sebut eyang oleh para penggemarnya juga. Meskipun jasadmu telah tertanam di tanah namun karyamu akan tetap abadi eyang. Selamat jalan dan semoga tenang dalam haribaan Tuhan