Game Online Yang Memenjarakan Pola Pikir Mahasiswa

Saya mencoba menulis artikel dengan tema ini karena menurut saya siapapun yang akan membacanya mungkin tergerak dan mengubah pola pikirnya sebagaimana mestinya. Di tengah pandemic kali ini banyak teman-teman mahasiswa melakukan berbagai hal untuk mengisi waktu luang dengan berbagai macam-macam kegiatan, salah satunya yaitu dengan mengisi waktu luang dengan menghibur diri yaitu bermain game online, tentu saya tidak bisa melarang teman-teman mahasiswa untuk bermain game namun sangat disayangkan apabila kita hanya bermasa bodoh dan membuang-buang waktu hanya karena berada pada zona nyaman ini. Mahasiswa yang katanya sebagai seseorang yang kritis dan peduli akan lingkungan social seakan hilang taringnya dikarenakan terbuai oleh zona nyaman dgn posisi kepala tertunduk dan focus menatap pada gadget dan itu yang saya dapat rasakan sampai saat ini entah ini adalah perkembangan zaman dan sebagainya. Namun saya selaku mahasiswa juga tidak ingin teman-teman terbuai oleh kenikmatan yang menjerumuskan. Ada banyak kegiatan-kegiatan positif lainnya yang dapat teman-teman lakukan daripada hanya duduk santai bermain game sampai berpuluh-puluh jam sampai lupa bahwa Negara ini sedang banyak permasalahan.

Menurut data dari newzoo jumlah pemain game online di Indonesia yaitu mencapai 52 juta dan menduduki rank global ke 17 dengan jumlah pemain game mobile terbanyak. Tentu ini bukan jumlah yang sedikit, namun coba kita bedakan jumlah literasi di Indonesia saat ini menurut penelitian PISA Indonesia rangking 62 dari 70 negara jelas ini menunjukkan perbedaan yang sangat jauh sekali.

Dalam dunia mahasiswa pun game online seakan menjadi momok menakutkan dikarenakan dapat merusak pola pikir mahasiswa, kenapa saya katakan seperti itu karna nyatanya banyak mahasiswa enggan untuk melakukan sesuatu yang dapat menambah wawasan dan pengalaman seperti membaca buku, menulis, mengikuti volunteer dan diskusi-diskusi ilmiah padahal itu sangat baik untuk masa depan teman-teman mahasiswa. Sayapun masih ingat dengan istilah yang melekat pada mahasiswa yaitu istilah RAKUS (Rasional, Analisis, Kritis, Universal, dan Sistematis) istilah ini seakan pudar begitu saja dikalangan mahasiswa yang lebih memprioritaskan dirinya pada game online dan lebih suka pada zona nyaman itu sendiri padahal banyak kegiatan mahasiswa yang sangat menarik dan menambah wawasan contohnya saja diskusi buku atau bedah buku kegiatan ini sudah jarang dilakukan oleh mahasiswa, mereka lebih mengenal kata Mabar dari pada Diskusi itu sendiri.

Berorganisasi, dalam ruang lingkup mahasiswa berorganisasi sudah sering sekali didengar dari awal memasuki dunia perkuliahan namun sayangnya banyak mahasiswa seakan malas mengikuti kegiatan ini dan lebih menyukai hal-hal yang memenjarakan pola pikir. Padahal kedepannya mahasiswa setelah selesai menempuh perguruan tinggi akan turun ke masyarakat langsung, lantas bekal apa yang akan kita bawa nantinya jika kita hanya mau bermasa bodoh dan berada di zona nyaman.

Memang, Indonesia saat ini telah mengikuti perkembangan zaman sebagaimana game online sudah dibuatkan sebagai cabang olahraga E-sport namun apakah semua orang akan terjun langsung ke dunia itu ? tentunya tidak. Maka dari itu sebagaimana generasi muda penerus bangsa “kita harus berani melawan arus dan tak gentar keluar zona nyaman karenanya Indonesia masih membutuhkan anak muda” –Najwa Shihab-

Penulis: Ramses Gunara, mahasiswa Universitas Sam Ratulangi

Mungkin Anda Menyukai