Bodoh dan Sadar oleh Cinta

Langit begitu indah
Terhampar luas
Tampak kokoh walau tak bertiang.

Kita berada dikolong langit yang sama
Tapi tak bersama.

Langit itu….
Kadang cerah
Kadang juga kelabu
Tak menentu.
Tapi, tak juga runtuh.

Sebuah ilustrasi
Perihal Cinta-ku untuk-mu
Telah kokoh terpatri dalam hati
Mencintai-mu tanpa tiang ilmu.
Bersama waktu menunggu waktu!

Langit cerah ataupun kelabu
Di sini masih saja sendu.

Diksi-mu indah dalam kisah-ku.
Diksi-ku dalam kisah-mu??
Entahlah….
Kau bahkan tampak tak tertarik dengan kisah-ku.
Abu-abu!

Kau telah menjejal ruang hati-ku
Tapi, derap langkah-mu tak pernah terdengar.
Yah, diri-mu memang tak pernah berjalan ke arah-ku
Karena, tujuan-mu bukan lah aku.

Di malam yang gelap
Langit dan hujannya menjadi atap
Tanpa dekap
Tak terlelap.

Ratap tangis kian menyatu dengan tetes hujan
Diri-ku harus tetap tegap
Menatap langkah yang meninggalkan
Kenyataan hadir-ku tak dianggap telah tersingkap.

Langit menunggu perintah-Nya untuk runtuh.
Waktu memberikan banyak ilmu perihal cinta-Nya yang lebih utuh.

Penulis: Fadillah Indriani Saleh, Mahasiswa Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjai

Mungkin Anda Menyukai