Setengah Langit

Ibu adalah pecinta Bunga. Karena itu, ia beri nama depanku dengan kata Bunga.

Kata Ibu, Bunga tak perlu bersuara untuk disukai banyak orang. Bunga juga tak perlu berjalan untuk diperhatikan banyak orang. Jadi, jangan pernah merasa asing di dunia ini. Semua kekurangan yang kau miliki sebenarnya adalah hadiah yang orang lain tak pernah dapatkan.

Sebenarnya aku tau, kata-kata itu senantiasa Ibu petuahkan padaku hanya untuk mengobati lukanya. Luka belasan tahun silam, dimana ia harus menerima kenyataan bahwa putri yang terlahir dari rahimnya tidak seperti yang ia harapkan. Hanya penyandang disabilitas ditambah lagi kehilangan kemampuan bicaranya. Tapi untunglah, mata hazel Ibu menurun padaku. Hidung mancung dan kulit putih Ayah juga tersalur padaku. Menurutku, masih ada ruang harapan untuk orang-orang melihat sedikit kelebihan di antara banyak kekuranganku.

Bicara tentang Ayah, Ayah adalah pecinta kerja keras. Saking cintanya, Ayah selalu bekerja keras menyembunyikan lukanya dariku dan Ibu. Dia juga bekerja keras mengajarkanku banyak hal, menggantikan posisi seorang guru sekolah untukku. Aku sangat tidak tersinggung dengan tidak bisanya setiap sekolah menerimaku. Sekalipun Sekolah Luar Biasa.

Karena di rumah,Ayah tak akan pernah bosan menjadi guruku, dan itu juga kewajibannya.

Dalam satu hari, waktu belajarku dibagi tiga sesi oleh Ayah. Pagi, siang, dan malam. Dimana satu sesinya terdiri dari dua jam pelajaran. Dan di jam-jam yang lain, aku beralih tugas menjadi murid Ibu. Belajar memelihara Bunga.

Setiap pagi, Ibu menyuruhku untuk menyirami Bunga-Bunganya. Hal yang paling aku sukai dari pembelajaran dengan Ibu. Walaupun aku harus menerima konsekuensi kelelahan karena harus menggotong kakiku dengan tongkat tiap paginya.

Tapi, disaat menyirami Bunga-Bunga itulah aku bisa sekalian menatap langit biru yang menaungiku. Dengan menatapnya, aku bisa melepaskan beban-beban yang kupikul. Rasanya seperti tenang tak berbatas. Disamping itu, aku juga bisa menebar senyum pada setiap pejalan kaki yang berlalu lalang di depan rumahku, meski hanya sedikit yang mau membalas senyum terbaik yang kupersembahkan.

Sampai suatu pagi, salah seorang dari pejalan kaki yang lewat didepan rumahku memilih untuk singgah. Tak taulah selama apa, atau mungkin sesingkat apa. Yang jelas, hal yang pertama kali kurekam darinya adalah senyum hangat yang ia tujukan padaku. Seperti senyum yang kuimpikan agar semua orang bisa menyuguhkannya untukku.

“boleh aku mampir?” katanya ramah. Aku tak menjawab, hanya mengangguk. Karena dasarnya, aku tak punya kesempatan untuk berbicara. Tapi dia sangat mengerti keadaanku.

“Namaku Garaa Ardianto. Dari beberapa pagi lalu, aku selalu melihatmu menyirami Bunga-Bunga disini.”

Aku mengambil buku kecil yang selalu Ayah siapkan untukku berkomunikasi.

“Namaku Bunga Genawa. Setiap paginya, aku memang selalu menyirami Bunga-Bunga disini. Ini adalah salah satu praktek pembelajaran dengan Ibuku.” Tulisku. Lalu kuperlihatkan padanya. Dia membaca tulisanku dengan seksama.

“Ternyata benar kota ini adalah kota Bunga. Baru beberapa hari sampai, aku sudah ditemukan dengan rumah yang dipenuhi Bunga.” “Juga pemiliknya yang indah seperti Bunga.”

Dari Bunga. Cara semesta mempertemukanku dengan salah satu mahluknya yang memandangku dengan mata hatinya. Dia tak pernah mempermasalahkan kecacatan yang kumiliki. Ibu dan Ayah juga turut bersuka cita atas hadirnya, karena bisa membawaku untuk lebih berani menjalani hidup. Soalnya, satu hal itu yang belum bisa Ibu dan Ayah lakukan untukku.

“Bungaku. Yang cintaku padamu seluas langit yang tiap pagi kau tatapi. Pergilah! Hadapi duniamu dengan semarak!.” Begitu kata Ibu, saat Garaa berusaha membujukku untuk keluar bersamanya.

“Seperti tak pantas dunia melihat orang sepertiku Bu.” Tulisku untuk Ibu saat itu. Aku sedih, banyak hal yang tidak bisa kuhadiahkan untuk Ibu dan Ayah. Jadi seharusnya, semesta tidak perlu menambah daftar orang yang hanya akan kukecewakan. Tapi Ibu adalah orang yang paling sedih dengan kata-kataku. Rasanya seperti dia tidak berhasil ikhlas atas garis hidup yang sudah digariskan.

Sekarang, disinilah aku berada. Tempat terindah yang pernah aku jamah. Karena hanya akan ada langit biru yang teduh menaungiku, juga Garaa. Ibu berhasil membujukku juga berkesudahan dengan kesedihannya.

“Tidak rugikan kubawa kau kesini? Aku tau kau suka pada langit. Makanya kupertemukan benar-benar kau  dengannya.” Kata Garaa. Aku tersenyum senang dan tanganku sudah bergerak menuliskan jawaban untuk Garaa.

“Jika Ibuku suka Bunga. Maka aku tak harus suka Bunga. Jadi, aku suka pada langit. Kau tau kenapa? Karena langit itu luas tak berbatas. Dan langit memperbolehkan siapa saja menatapnya tanpa syarat. Walapun orang sepertiku.” Tulisku dengan semangat. Lalu, Garaa membaca tulisanku dengan seksama.

“Ada satu pelajaran yang dapat kau petik dari langit itu Genawa. Cara prakteknya yaitu dengan sesekali berikan tanganmu waktu istirahat. Jangan pikirkan bagaimana orang akan memahamimu tanpa tulisan tanganmu. Karena diwaktu yang tepat, akan datang orang yang mengerti bagaimana kau berbahasa tanpa tulisan. Hanya dari isyarat yang tak semua orang bisa melakukannya. Seperti langit yang tanpa syarat memperbolehkanmu menikmatinya.”

Aku takjub dengan pria ini. Sudah sejauh ini dia mengenal mahluk yang tercipta cacat sepertiku, tapi tak pernah dia merasa jenuh. Ternyata mata hati itu baik lagi baik.

Aku menyimpan buku kecilku. “Aku ingin memiliki langit.” Isyaratku padanya. Dia dengan cepat menangkap maksudku.

“Mulai hari ini, aku berikan dia padamu. Tapi hanya setengah saja.” Katanya.

Aku memiring herankan wajahku saat mendengar kalimat yang tidak tertafsirkan di kamusku itu.

“karena langit yang luas itu pasti akan jatuh cinta pada mata hazelmu yang dengan tulus memandangnya. Jika kuberikan setengah, maka dari bagian itu saja dia mencintaimu. Juga agar kau tau, seluas-luasnya cinta untukmu hanya pada Ibu, Ayah, dan diriku.”

Huh, terima kasih semesta atas Garaa Ardianto yang tiba-tiba kau kirimkan ini. Banyak kisahku yang berubah lebih indah karenanya. Dan karena hadirnya pula, kau sembuhkan luka yang bersarang di hati Ibu dan Ayahku. Luka yang kupikir tak akan pernah sirna.

Tapi maaf, bersama dengan berakhirnya kisah indah ini, kukirimkan secarik piluku untukmu Garaa. Agar kau melanjutkan kisah ini diawali dengan air dari mata yang membuat langit jatuh cinta ini. Juga mata yang masih menyimpan senyum hangatmu di waktu pertama bertemu. Penyakit mematikan itu memang tidak dapat dipungkiri. Aku tak pernah membayangkannya hadir diantara hari-hari indahku. Apalagi, jika pada akhirnya merenggutku dari dunia.

“Aku kembalikan setengah langit yang dulu kau berikan padaku. Agar langit dengan keluasannya bisa menggambarkan cintaku pada Ibu, Ayah, juga salah seorang utusan semesta yang telah meneduhi sisa-sisa hariku yaitu, dirimu.”

Hanya itu yang bisa kutuliskan. Tapi percayalah, langit sudah menggambarkan segalanya. Aku pergi. Bunga indah ibu, murid terbaik Ayah meninggalkan dunianya yang baru saja semarak. Jangan tangisi kepergianku. Aku sudah menyatukan dua belah langit untuk membuktikan cintaku yang tak ada batasnya untuk kalian. Semesta punya rencana lain dengan kepergianku. Biarlah dunia pernah melihat kekuranganku. Tapi sekarang, di langit yang luas ini aku menjadi mahluk paling sempurna.

Mungkin, di suatu waktu semesta menghadirkan mahluk serba kekurangan ini untuk menghidupkan cinta. Lalu cinta, akan menuntun mata hati untuk berkerja sebagaimana mestinya.

Aku pergi setelah menuntaskan tugasku. Memberi pelajaran banyak orang. Bahwa, jika ingin mencintai sesuatu, lihatlah langit terlebih dahulu!. Dia punya jawaban tertepat. Yaitu, jangan persulit cinta itu dengan syarat apapun.

****

“Hai langit! Tolong sampaikan pada Genawa. Terima kasih telah membuatku mengenal cinta untuk kali pertama. Cinta yang membuatnya indah tanpa bersuara. Juga cinta yang meniadakan kecacatannya.”.

“Mencintainya seperti setengah langit yang kuberikan padanya. Punya batas.” Garaa Ardianto.

 

 

 

Penulis: fadhyani Azhar, Siswa SMAS IT Bengkinang