Puisi-puisi Taufiq Ismail

RINDU

Malam ini hujan tiba-tiba jatuh, sesekali riuh menghantam atap hingga menghilang menyisahkan rintik

Malam ini terasa ada yang berbeda, ada sesak yg di tinggalkan selepas reda

Jendela yg kutatap terasa dingin, sementara hujan telah berhenti sedari tadi.

Rindu terasa lebih mendesak ketika bisu, menyisahkan sesak hingga membuatmu kehabisan kata-kata

Semua yg ada di kepala terasa lebih hidup, berusaha mencari jawaban dari segala pertanyaan

Namun tak ku temukan apapun selain kamu

Bentang Jarak perlahan mulai terasa, menyisahkan sesak tak terdefinisi.

Rentetan kilometer yg memisahkan menjadi sesuatu yg sulit untuk diterima

Dulu aku pernah berpendapat bahwa jarak bukan lagi masalah takkala kecanggihan handphone mampu mencakup semuanya

Mulai dari tulisan, suara, gambar hingga video. kita bisa bertukar pendapat melalui ketikan, terhubung melalui suara hingga bertatap melalui video

Namun tetap saja rindu seakan tak di bayar tuntas

Ibarat morfiin hanya bisa meredam sementara.

Ahh namanya saja dunia maya rasa-rasanya tetap terasa tak bernyawa.

Rindu adalah fase terbaik untuk belajar menghargai dan memaknai

Rindu bukan hanya sekedar bentang jarak, namun ada perasaan yg membuatnya terasa bernyawa

Ada sesuatu yg terbawa pergi bersamamu

Kini tugasku menunggumu kembali, melepaskan rindu yang mendesak

YANG TELAH USAI

Belakangan kita jadi sepasang yang terjebak dalam lara, yang saling menyakiti dengan kata

Cemburu jadi masalah yang tak ada habisnya

Kita sudah tidak saling percaya, hanya curiga yang terpelihara

Pertengkarang-pertengkaran tak pernah bisa dihindarkan, masalah kecil terus di besar-besarkan

Tanpa sadar kita telah menjadi mahluk egosentris, yang ingin selalu di benarkan

Tak ada yang mau mengalah

Maaf yang harusnya bisa melerai  hanya jadi sekedar kata

jalan buntu menanti hubungan kita

Kau yang tak pernah bisa damai dengan amarahmu dan aku

Aku hanya tau pasrah.

Bagi kita saling mengabari bukan lagi hal penting, kita tak peduli satu sama lain

Kamu selalu meminta untuk pergi tiap kali berselisih

Tak banyak yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tetap tinggal

Kita yang tak bisa lagi saling menguatkan, akhirnya saling melepaskan

Memilih Menutup lembaran kisah, karna tak mampu berdamai dengan masalah yang tak berkesudahan

kita yang dulu  takut kehilangan, sekarang  hanya bisa saling mengenangkan

Pada akhirnya, kita menjadi cerita yang telah usai, Kita telah selesai

Do’a untuk kebahagiaanmu senantiasa terangkai

Kejarlah seluruh inginmu dan  harapmu tanpa aku disampingmu

Akupun begitu, akan Ikhlas untuk kepergianmu

Berjanjilah, untuk tidak datang lagi, meminta maaf ingin kembali, karna khilaf telah pergi

Belajarlah untuk memaafkan yang telah lalu, dengan begitu bahagia akan menyertaimu

Penulis: Taufiq Ismail, merupakan mahasiswa Universitas Fajar Makassar

Mungkin Anda Menyukai