Puisi-puisi Mustika

Tuan Bilang Kami

Tuan bilang kami menderita kelainan

Tuan bilang kami anak-anak yang terlantar

Tuan bilang kami anak-anak yang di buang

 

Kelainan yang tuan maksud adalah kelaparan

Kami butuh makan bukan ocehan

Apalagi bualan yang katanya bantuan akan datang

Tapi tak kunjung sampai walaupun keluarga kami banyak yang berpulang

 

Tuan bilang kami terlantar

Dengan dasi mengkilap tuan datangkan kabar

Tentang rumah dan juga tentang pengobatan

Tapi nyatanya kami masih terkapar tanpa makanan

 

Memang kami anak pinggiran

Tinggal di kolong jembatan dengan besi sebagai tiang

Yang mengharuskan kami lari saat banjir menerjang

Juga kedinginan saat malam datang

 

Setidaknya kami masih punya Tuhan

Ketika tulang rusuk semakin menonjol ke depan

Saat usus kami terpelintir pelan

Maka Tuhan yang akan turun tangan

Menjaga dengan menarik kami pulang

 

 

 

Percikan Harapan

Pernah kubermenung di kesunyian malam

Bercengkrama dengan celoteh kalbu yang yang berdebam

Tanpa selarik kata pun dalam gumam

Dan tiba-tiba segaris rasa berubah kelam

Hingga tiada kusadar mata pun tak ingin memejam

 

Dulu, kukira ia hanya sebagai angan

Sepotong harap yang mungkin berakhir dengan kesia-siaan

Namun nyatanya tiadalah demikian

Tanpa dinyana ia kini tertulis menjadi sebuah harapan

 

Apa yang awalnya tiada kupercaya

Sanggup merekah dalam sebuah masa

Ketika doa-doa yang tiada henti kueja

Terdengar oleh-Nya Sang Maha Segalanya

 

Mengabulkan pinta

Menghadiahkan apresiasi dan juga rasa bangga

Atas kesungguhan dan tekad dalam berusaha

Menggapai asa dalam jiwa

 

 

 

Penulis: Mustika, Mahasiswa IBK Nitro Makassar

Mungkin Anda Menyukai