Setelah Ali Syari’ati, Siapa Lagi?

Setiap orang mengenal Dr. Ali Syari’ati, sosok pemuda intelektual dengan gagasan dan ide kritisnya sebagai penawar dari peran kalangan kaum muda. Dalam konteks perubahan sosial, pemikirannya bisa dikatakan mempunyai alur tersediri dibandingkan dengan tokoh pemikiran dan pergerakan islam lainya.

Dua tahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah pesan religius dari gurunda di salah satu majelis kajian filsafat, isi pesanya adalah dalam bentuk seruan yang berupa bentuk afirmasi untuk mendalami corak pemikiran dari Ali Syari’ati. Dalam hal itu, saya agak merasa kebingungan dengan pesan yang di berikan oleh gurunda tersebut. Disisi lain, saya belum terlalu  paham terhadap bentuk bentuk bangunan pemikiran dari Ali Syari’ati. Saya kemudian berfikir bahwa, ini bukan menjadi persoalan, juga bukan suatu dalih penolakan untuk mendalami pemikiran dari cendikiawan tersebut.

Bagi saya ini merupakan suatu bentuk diskursus yang sangat intim. Tanpa berfikir panjang saya meng-iya kan apa yang menjadi amanah tersebut, saya pikir ini adalah kesempatan, untuk lebih detail dalam masuk di dunia pemikiran.  Menjelang beberapa hari, saya mulai berusaha  mencari karya-karya dari ali sariyati. Kondisi pada saat itu juga tidak bersahabat, ada  hal-hal yang memaksakan saya untuk melakukan ekplorasi. Krisis ekonomi waktu itu menginisiatifkan untuk mencari bebrapa senior-senior, untuk menanyakan karya-karya dari Ali Syari’ati. Alhasil saya mendapat  satu karyanya yang berjudul “Ideologi kaum Intelektual”.

Dari proses gelutan saya pertama kali dengan membaca buku tersebut, perlahan saya mulai teriinspirasi di setiap lembaran-lembarannya. Ternyata ada banyak sikap dan pilihan hidup semasa mudanya.  Sampai pada tahap pengkhataman buku tersebut,  saya di minta oleh gurunda untuk membedah di salah satu tempat belajar saya.

Dari proses pegkhataman buku itu banyak gagasan gagasan maupun idenya yang didapatkan di setiap lembaran buku itu. Ada banyak sejarah yang mempertontokan betapa kebenaran dan kebatilan tak akan berdamai, betapa keharmonisasian dan ekploitasi tidak akan bersinergi. Pada awal sejarah, kita di perlihatkan perlawanan antara Habil dan Qabil. Dalam proses pergulatan ini, ada identifikasi yang di kemukakan oleh ali sariyati kepada keduanya. Habil  di simbolkan sebagai  kebenaran dan Qobil di simbolkan sebagai kebatilan.

Menurut ali sariyati,jika analilsis dalam kacamata agama islam, filsafat sejarah memiliki dealektika historis tertentu. Ali Syari’ati mengatkan bahwa sejarah merupakan peristiwa keberlanjutan, baik yang terjadi pada masa lalu, sekarang bahkan mendatang, dan sejarah merupakan hasil dari dialektika itu sendiri. Dalam konteks tersebut suatu pertaruangan konstan antar dua anasir yang berlawanan demi sebuah kebenaran dan kebatilan yang bermula pada proses di mulainya kejadian manusia. Pertarungan tersebut merupakan hasil historis diealektika yang berlangsung pada rung dan waktu, itulah yang meruoakan hasil kalkulasi dari sejarah. Dalam kacamata islam proses pertarungan antara Habil dan Qabil merupakan akar permasalahan dari sejarah tersbut.

Tak haya itu, dalam proses merefleksikan sejarah, ali sariyati juga, menampilkan 4 (empat) tokoh kebatilan,  sebagai simbol dari tindakan ekploitasi. Mereka adalah; firaun sebagai symbol pemimpin yang zalim, yang memaksa rakyatnya untuk mebayar upeti (pajak/iuran), lalu dikorupsi oleh segelintir orang. Ada juga Qorun, sebagai simbol dari sistem kapitalisme, yang membantu masyarakat miskin  sebagai alat atau modus untuk mengambik hasil kekayaan yang berlipat ganda dari hasil bantuanya tersebut. Lanjut  Hamman, ia disimbolkan sebagai pelacur intelektual yang menggunakan pengetahuanya untuk mengeksploitasi kaum mustada’afin (kaum yang tertindas). Dan yang terakhir ialah Ba’laam yang disimbolkan sebagai Ahli agama yang menjadikan agama sebagai legitimasi atau alat untuk mengekploitasi.

Dari sejarah tersebut, empat tokoh tersebut merupakan symbol yang bisa mewujudkan dalam setiap jiwa dan masa. Dari hasil analisis saya, membenarkan apa hal tersebut. Bahkan di zaman milenial ini, symbol-simbil yang tergambar itu masih bisa kita temukan kehidupan sehari-hari.  Eksploitasi, korupsi, kolusi, nepotisme, kriminal dll.

Ali Syari’ati juga dikenal luas dari gagagasan-gagasannya yang sangat revolusioner, baik dibidang keagaman, bidang social dan politik. Ia bahkan di kenal sebagai orator revolusioner karena ide-idenya yang cemerlang, dan memberikan kepekaan pada jiwa manusia. Ia adalah salah seorang di antara sedikit tokoh yang paling berpengaruh dalam kebagkitan revolusi islam Iran. Dabashi bahkan mengklaim bahwa Syari’ati adalah seorang Ideolog Par Excellent karena alam dirinya terdapat jiwa yang kompleks. Ia mampu dalam tarikan nafas yang sama menyebutkan Imam Ali, Abu Dzar, Max Weber, Durkhiem, Sartre dan Karl Marx. Walaupun dalam karya- karyanya memiliki banyak tema-tema yang kontradiktifdan sistematis.

Kemudian  Abrahamian pernah mengemukakan pendapatnya tentang Ali Syari’ati bahwa pada kenyataan nya, terdapat tiga Ali Syari’ati. Pertama, Syari’ati sebagai seorang sosiolog yang tertarik pada hubungan dalektis` antara teori dan praktis, antara ide dan kekuatan social serta memiliki komitmen yang tinggi dalam realitas kehidupan sosial dan politik. Kedua, Syari’ati sebagai soerang yang bermazhab syiah, yang  juga  menjadikan syiah sebagai revolusioner dalam perjuangan. Ketiga, Syari’ati sebagai public speaker yang bersemangat, artikulatif, dan oratorik yang sangat memikat bagi banyak orang, khususnya kalangan muda. Dalam kedududukan ini ia banyak mnengunakan jargon, analisis, simplifikasi, dan sinkritisme yang tajam dalam melawan berbagi institusi yang berwatak westernisasi dan otoriter.

Kita teringat dan tertarik tertarik  dalam perlawanannya pada  rezim dictator Syah Reza Pahlevi. Ia mencoba melaawan penindasan politik, ekonomi, dan budaya serta berusaha memulihkan kembali warisan asli mereka setelah dicampakan oleh hegemoni barat melalui politik imperialisme dan kelas-kelas tertentu yang bercokol dibawah genggaman Pahlevi. Dalam skema karyanya, banyak dibincangkan masalah elaborative dan konsistennya dalam menumbangkan rezim westernisasi itu.

Problem yang paling utama Syari’ati, bukan tentang hidup itu sendiri akan tetapi bagimna keberlansunga dan tujuannya. Karena itulah sejak awal, dalam berbagai aspek kehidupannya ia sudah bergulat untuk membentuk karakter dirinya, baik jasmani maupun rohani. Lantas dengan berbagi asupan dan nuansa-nuansa dalam dirinya, tentu ada hal yang ingin kita bentuk sebagai jargon revolusioner kedepannya.

Selanjutnya dalam dialektika historisnya, ada sebuah pesan yang di afirmasikan dari kalangan muda. Ia menginginkan kalangan muda sebagai pelanjut dari misi kenabiaan. Dalam sebuah kutipan kutipan karyanya (kavir, hal 15) Ia mengatakan Aku tidak bisa tinggal diam dan mengatakan sesuatu. Bila akau diam rasanya bagikan  seseorang yang sekarat yang tau bahwa kediamannya dan keselamatannya sedang menantinya yang telah jemu akan kesukaran hidup, yang tidak dapat berbuat baik menanti sepanjang hayat. Tidaklah kau lihat betapa nikmatnya kedamaian kematian seorang sayhid? Bagi mereka yang terbiasa akan rutin harian, kematian merupakan tragedy yang seram, penghentian yang dasyat dari segalanya: lenyap dalam ketiadaan. Alangkah agungnya mereka yang memperhatikan amar yang menakjubkan ini dan mengamalkannya “Matilah sebelum engkau mati”.

Saya sendiri merasa terpanggil akan hal ini, adakah yang merasakan apa yang saya rasakan?.  Sebagai pelajar yang tercerahkan (Rausyan fikr), tentu ada kepekaan, kesadaran, keberaniaan berfikir, keluhuran jiwa serta kekuatan kalbu dalam melihat kehidupan realitas ini secara elaborative. Kita disugukan  berbagai macam  fenomena. Pemaknaan rausyan fikr bagi ali sariyati adalah sebagai pelanjut misi kenabian. Rausyan fikr tidak di identikan dengan sarjanawan, tetapi ia adalah jiwa yang tercerahkan dan mencerahkan (harmonisasi). Tidak peduli apakah mereka dari kalangan akademis, buruh, atau rakyat jelata. Sehingga pada hakikatnya kita akan sadar, peka atas tanggung jawab kita (Individu) dan tatanan kehidupan social (kelompok).

Penulis: Gunawan Hatmin, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Mungkin Anda Menyukai