Pentingnya Menuntut Ilmu Dalam Perspektif Islam

Dewasa ini, banyak negara yang mayoritas penduduknya beragama islam tapi negara tersebut bukanlah termasuk negara maju, bahkan cenderung masuk ke dalam negara terbelakang. Hal ini sangatlah ironis mengingat di dalam ajaran agama islam banyak sekali panduan-panduan untuk mencapai kesuksesan dunia. Seruan menuntut ilmu sudah dianjurkan sejak manusia lahir ke muka bumi ini, selama hayat masih dikandung badan maka tidak ada kata untuk berhenti belajar. Ajaran agama islam sangat menekankan umatnya untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi entah kenapa kita sering melalaikannya.

Sebagai umat muslim, kita memerlukan belajar secara teratur Long Live Education. Belajar dalam islam bertujuan agar kita dapat ilmu untuk hidup di dunia dan memperoleh bekal untuk akhirat. Hal-hal penting untuk kita pelajari nantinya akan berpengaruh dan Insya Allah dapat menjadi pegangan kita selama hidup di dunia yaitu dengan ilmu kita dapat mencari nafkah untuk kebutuhan hidup. Seharusnya kita harus memahami untuk apa kita hidup di dunia ini. Allah menciptakan makhluknya hanya untuk beriman dan bertaqwa kepada Nya. Jadi semua hal yang telah dan akan kita lakukan semua ditujukan hanya pada Allah, yaitu dengan cara senantiasa melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik adalah semua pikiran, perkataan dan tingkah laku yang berniat baik dan dilaksanakan dengan sikap-sikap terpuji untuk menciptakan kedamaian dan keindahan dalam hidup. Perbuatan baik adalah kunci dari ibadah, baik ibadah kepada Allah maupun ibadah kepada manusia (termasuk pada diri sendiri).

Dalam hal ini, ilmu adalah salah satu perbauatan baik yang memiliki dampak positif. Dampak tersebut bisa diterima bagi penerima maupun pemberi ilmu. Itulah arti penting ilmu yang tidak bisa diremehkan begitu saja, karena setiap hal di dunia memerlukan ilmu. Dalam pandangan islam, betapa mulianya orang yang belajar dan menuntut ilmu, sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al Quran Surah Al Mujadalah, ayat 11. Allah berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Imam As Syafi’i memberikan nasehat betapa pentingnya menuntut ilmu, diantaranya :

Barang siapa yang tak pernah merasakan lelahnya mencari ilmu walau hanya sebentar, akan meminum kehinaan kebodohan pada sisa hidupnya.

Mari kita tengok sejarah para ulama terdahulu, mereka harus menempuh perjalan panjang untuk menuntut ilmu, meninggalkan kesenangan duniawi, serta duduk dimajelis ilmu dan belajar langsung dari para imam dan ulama. Setelah mendapatkan ilmu, mereka abadikan dengan menulis dilembaran-lembaran kerta dengan tinta celup, tak terbayangkan bagaimana sulitnya mendapatkan ilmu pada masa itu. Jauh berbeda dengan hari ini, jika kita menginginkan ilmu maka dengan mudah memperolehnya.

Baginya yang melewatkan mencari ilmu pada saat muda, maka bertakbirlah untuknya 4x karena kematiannya sudah terjadi.

Nasehat Imam Syafi’i yang perlu dicamkan, jika kita melewatkan masa muda dari mencari ilmu maka seolah-olah kita sudah seperti orang mati. Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita, sebuah anugerah dari Allah yang tak ternilai harganya bahkan ini yang membedakan diri kita sebagai manusia dengan hewan adalah AKAL, dan makanan akal ini adalah ILMU.

Kehidupan pemuda – demi Allah – adalah dengan mencari ilmu dan bertaqwa, bila keduanya tak mewujud, maka tak ada yang menandai keberadaannya.

Salah satu yang menjadikan diri kita mulia dibanding yang lain adalah keilmuan yang dimiliki. Orang yang berilmu akan diakui keberadaannya, bahkan dia hidup lebih lama dari usianya didunia. Walaupun dia telah tiada, namun keberadaannya tetap ada melalui Washilah Ilmu dan karya yang dimilikinya.

Segala kegiatan manusia didunia pada hakikatnya untuk menciptakan kehidupan yang indah. Bila diungkapkan dengan bahasa ungkapan maka dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan “bunga-bunga ibadah”. Ilmu merupakan penghias ibadah manusia kepada Allah, kepada sesama manusia dan kepada diri sendiri. Ketika ilmu dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan sebaik-baiknya untuk kepentingan yang benar maka akan sangat indah manfaat yang diraih. Namun bila ilmu pelajari dengan setengah-setengah dan dimanfaatkan semaunya tanpa tahu tujuan benar atau tidak, maka ilmu itu akan merusak citra keindahan. Inilah yang sangat penting kita pahami agar tidak sembarangan mempergunakan ilmu dalam kehidupan kita. Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang dipelajari dengan niatan baik dan tulus untuk diamalkan di jalan Allah SWT. Dalam Al Quran, surah Al Mulk ayat 10, Allah berfirman : “dan mereka berkata : “sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.

Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang wajib dituntut oleh umat muslim adalah ilmu yang bermanfaat, yang benar, yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah, dan memperoleh kebahagiaan bagi diri, keluarga, dan masyarakat, serta bermanfaat didunia dan diakhirat. Rasulullah bersabda, “Apabila anak cucu Adam wafat, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara : Shodaqoh Jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang tuannya”, (HR.Muslim). Salah satu jenis ilmu yang termasuk dalam hadist tersebut adalah ilmu agama dan ilmu umum lainnya yang banyak bersinggungan dengan kehidupan umat islam. Mengingat pentingnya menuntut ilmu yang bermanfaat, Rasulullah sendiri dalam sebuah riwayat pernah memohon dalam doanya, “Allahumma Inni A’uudzubika Min ‘Ilmin Laa Yanfa’u” (Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).

Dalam sebuah hadist Qudsi, Rasulullah pernah menceritakan tentang dialog Nabi Daud a.s yang menerima wahyu dari Allah. Beliau bersabda, Allah berfirman :

“wahai Daud, pelajarilah ilmu yang bermanfaat.

Ya Rabbi, apakah ilmu yang bermanfaat itu?, tanya Nabi Daud a.s

Allah berfirman : ialah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, kebesaran dan kesempurnaan kekuasaan Ku atas segala sesuatu. Inilah yang mendekatkan engkau kepada Ku”.

Jelas dari hadist qudsi ini bahwa ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang bisa membuat kita semakin mengenal Allah, dekat kepada Allah, dan yang bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala.

Hikmah Menuntut Ilmu

Selain bisa mengangkat derajat, ilmu juga bisa menurunkan derajat manusia hingga membawa kehancuran. Senjata moderen yang digunakan untuk menghancurkan negara yang tidak jelas dosanya, menjadikan pelakunya mendapatkan cemoohan dan hujatan sehingga wibawa kemanusiaannya tidak di hargai lagi didunia. Contohnya Amerika Serikat dan Israel serta sekutunya hingga kina citranya buruk dimata dunia. Hikmah lainnya adalah ilmu menjadi konstribusi bagi peradaban dunia, sejarah islam telah menunjukkan hal tersebut. Misalnya tentang ilmu Al Jabar atau Algoritma dikembangkan oleh Al Khawarizmi : Bidang kedokteran oleh Avicena (Ibnu Sinna); bidang ilmu sosial dan filsafat oleh Averroes (Ibnu Rusyd); bidang sejarah dan sosiologi oleh Ibnu Khaldun; bidang ilmu jiwa dan spiritual oleh Imam Al Ghazali; bidang politik dan kosmologi oleh Farabi dan Al Kindi; bidang hukum dan ekonomi islam oleh para Fuqaha (Imam Ja’far As Shadiq, Imam As Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambali, Imam Malik bin Anas, dan Imam Abu Hanifah); bidang bahasa dan satra oleh Ibnu Thufail; dan tokok-tokoh muslim lainnya.

Dari semua rangkaian pentingnya belajar dan menuntut ilmu, jelaslah bahwa derajat manusia terangkat dan menjadi teladan sepanjang sejarah. Mereka yang telah berhasil mengukir sejarah tetaplah dikenang dan dikenal meskipun jasad mereka telah tiada. Karya dan ilmu yang bermanfaat mereka menjadikan investasi pahala akhirat sepanjang manusia masih berada dimuka bumi ini. Karena itu, sungguh tidak sesuai dengan landasan agama bila seorang muslim tidak belajar atau menuntut ilmu sepanjang hidupnya.

 

Daftar Rujukan

Akhwan, Muzoffar. 2008. Pengembangan Madrasah sebagai Pendidikan Untuk Semua. Jurnal El Tarbawi; Jurnal Pendidikan Islam, No 1, Vol 1.

Al Abrasy, M.A. 2003. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Fajar, A. Malik. 2005. Holistika Pemikiran Pendidikan. Jakarta; Raja Grafindo Persada.

Hawi, Akmal. 2008. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Palembang: IAIN Raden Fatah Press.

Hasbullah. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia, Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rasiin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: Angkasa.

Wedan, Mas. 2016. Pengertian Pendidikan dan Tujuan Pendidikan Secara Umum. http://silabus.org/pengertian-pendidikan/ (diakses pada Jumat 29 Mei 2020 10:15:30).

Penulis: Ismanto Didipu, merupakan pegawai kantor Kementerian Agama Kab. Gorontalo Utara

Mungkin Anda Menyukai