Memilih Untuk Berbeda

Hidup tidak dapat lagi dikatakan hidup apabila tidak ada pilihan di dalamnya, dan setiap pilihan terdapat konsekuensi yang harus dijalani. Di dalam memilih di antara dua pilihan tak dapat dipungkiri akan terjadinya perbedaan. Yang satu memilih yang lain dan yang lainnya memilih pilihan yang lain pula dan biasanya berakhir dengan bermusuhan atau bahkan saling menyalahkan satu sama lain dan membenarkan pilihan masing-masing.

Pada kehidupan masyarakat, “berbeda pilihan” masih menjadi sesuatu yang sangat tabu dan belum bisa menjadi suatu kesatuan dalam aktivitas keseharian. Pemilihan Presiden dan pemilihan DPR, serta DPD menjadi salah satu potret betapa dianggap tabunya sebuah perbedaan pilihan yang akibatnya bisa sangat fatal. Harus diakui bahwa itu memang benar adanya dan kita tidak dapat menolaknya kecuali kedewasaan yang menjadi pembentang sikap dalam menerima perbedaan.

Sering kali kata “berbeda” dianggap sebuah bentuk pertentangan atau bahkan sebuah bentuk perlawanan. Prinsip seperti ini masih banyak yang menganutnya, khususnya di beberapa pelosok negeri ini. Hukum adat yang masih sangat mengikat dan harus di ikuti oleh seluruh anggota masyarakatnya menjadikan sebuah perbedaan dianggap sebuah perlawanan. Pada dasarnya, prinsip semacam ini sangat baik diterapkan dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam meningkatkan kekompakan dan menjaga sikap gotong royong antar masyarakat disuatu daerah. Namun di sisi lain, prinsip seperti yang berkepanjangan akan mematikan keberagaman dan sikap toleransi di lingkungan masyarakat. Nah, bagaimana jika dalam suatu kalangan masyarakat ada yang ingin mencoba mengembangkan pemikirannya dan memilih untuk berbeda?

Semua Punya Hak Atas Kebahagiaan Diri Masing-Masing

Ada satu kalimat dari seorang pelawak Indonesia yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan buat kita semua. “sedikit lebih beda lebih baik dari pada sedikit lebih baik”. Kalimat singkat namun mengandum begitu besar makna. Perlu digaris bawahi bahwasanya hidup itu hanya sekali. Tentunya kita semua tidak ingin hidup dalam tekanan dan interpensi orang lain bukan? Sayang sekali jika hidup ini tidak dinikmati dengan kebahagian dan pilihan kita sendiri. Pemikiran tersebutlah yang menjadi awal bagi diri saya pribadi untuk memulai memilih jalan berbeda dari teman-teman sebaya saya kala itu.

Memilih Untuk Berbeda Pasti Tidak Akan Mulus, Tapi Tak Apa

Sejak pertama saya memilih untuk berbeda, ada banyak jalan berliku yang harus dilalui dibanding mereka yang memilih jalan yang lurus-lurus saja untuk hidup mereka, lebih banyak tantangan dibanding mereka yang masih memilih untuk terus terika pada hukum adat yang menganggap tabu sebuah perbedaan. Namun dari jalan berliku itulah saya merasakan makna hidup yang sebenarnya. Pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan dari jalan itulah yang membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang.

Apapun Pilihanmu, Tentu Akan Ada Konsekuensinya

Tidak mudah mejadi beda di antara yang lain, tidak gampang menjadi minoritas diantara mayoritas. Menjadi sasaran bullying adalah hal biasa yang akan kamu temui. Sebab Mereka tidak akan merasa tenang melihat semua pencapaianmu jika kau mencapai hal tersebut bukan dengan jalan mereka. Namun bagi saya yang masih berusia 8 tahun kala itu, sangat sulit untuk menerima bully yang diarahkan kepada saya.

Setiap Tindakanku Akan Menjadi Pusat Perhatian

Disaat yang lain memilih untuk diam, aku mencoba untuk lebih sering bersuara. “hu… sok asik”, “cerewet”, “Cari Perhatian” kata-kata tersebut akan terus menggema di telingaku. Disaat yang lain memilih untuk acuh-acuh tak acuh dalam melanjutkan pendidikan, aku mencoba untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Ocehan “udah kodratnya jadi petani yah akan tetap kembali menjadi petani” akan aku dapatkan. Di saat yang lain memilih pasif organisasi, aku malah memilih hiperaktif organisasi bahkan hingga pulang larut malam karena organisasi. Dan seperti yang kalian bayangkan, mulut-mulut yang tak sejalan denganmu akan terus bersuara “dasar anak tidak benar, pergi pagi pulang malam terus”.

Ini Pilihanku, Dan Hasilnya Pun Untukku

Apa akhir dari semua ini? Yah seperti apa yang saya katakana sebelumnya, setelah berhasil melewati sebagian kecil konsekuensi dari keberbedaan, saya dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dan yang terpenting tidak ada penyesalan dalam hidup saya karena memilih untuh untuk bahagia dengan pilihan sendiri. Berabagai prestasi dan pencapaian besar telah saya capai dan semua itu tidak akan terwujud jika saya masih memilih untuk hidup dalam interpensi orang lain.  Ini belum berakhir, saya akan terus memilih untuk berbeda karena sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik.

Penulis: Akmal Riswandi, merupakan mahasiswa UIN Alauddin Makassar, dan sekaligus ketua umum HMJ Pendidikan Matematika FTK UINAM

Mungkin Anda Menyukai