Sekolah Teduh

Seperti biasanya, pendidikan tak henti-hentinya menjadi suatu diskusi dan hal menarik untuk terus diperbincangkan. Betapa tidak, pendidikanlah yang menjadi hal paling fundamental dalam kehidupan manusia. Kita teringat pada sejarah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki kala itu. Pasca pengeboman, kaisar jepang bukan lagi menanyakan kekuatan militer, kekayaan alam, kondisi perang, tetapi hal pertama yang ditanyakannya adalah berapa pendidik yang hidup pasca peristiwa tersebut. Tak ayal, jika pendidikan menjadi salah satu penentu kebangkitan dan kemajuan sebuah peradaban.

Salah satu institusi pendidikan terbesar adalah sekolah. Sejak dimulainya dari zaman yunani yang berawal hanya sekedar sebagi pengisi waktu luang hingga gagasan pelembagaannya dari seorang Pestalozzi, sekolah telah menjelma sebagai sebuah lembaga pendidikan yang konon katanya ditempat tersebutlah dapat lahir manusia-manusia yang berpengetahuan tinggi. Jika dipikir-pikir kembali, alangkah benarnya instruksi presiden Soeharto kala itu untuk pembangunan sekolah dasar.

Pembangunan sekolah sebagai lembaga pendidikan harus memperhatikan banyak hal. Kehadiran sekolah yang di klaim sebagai solusi terhadap pendidikan harus diikuti oleh bukti nyata akan hal tersebut. Kembali ke sejarah, sekolah pribumi pertama kali didirikan oleh Ki Hajar Dewantara yang disebut Taman Siswa. Sekolah tersebut pada zamannya didirikan untuk menjadi wadah serta solusi pendidikan kala itu ketika pribumi tidak memiliki akses untuk bersekolah di sekolah-sekolah belanda jika mereka bukan dari golongan bangsawan.

Di sekolah tersebut anak-anak atau siswa dibimbing sedemikian rupa dalam meningkatkan kapasitas dirinya secara merdeka, dengan tujuan untuk menciptakan manusia yang merdeka pula. Karena melalui hal tersebut, siswa-siswa dapat menjadi manusia yang mampu berdiri diatas kakinya sendiri dan akan berperan besar terhadap pemerdekaan bangsa kala itu, itulah tujuan mulia pendidikan untuk kebangsaan dan kemanusiaan.

Menariknya, sekolah-sekolah semacam tersebutlah yang kemudian harus dihadirkan dalam dunia pendidikan seperti sekarang ini. Maraknya problematika sekolah seperti saat ini menuntut untuk menciptakan inovasi baru dibidang persekolahan. Bukan hanya dari segi pembangunan serta pemenuhan fasilitas, akan tetapi dari tinjauan aspek sosiokultural, sosio ekologis dan social budaya harus mendapatkan pertimbangan yang matang.

Aspek sosiokultural, sosio ekologis dan social budaya membutuhkan perhatian khusus dalam pembangunan serta pemberian muatan pelajaran bagi peserta didik. Hal tersebut didasarkan atas luasnya daerah Indonesia dengan latar belakang banyaknya perbedaan keadaan alam, kultur, sosial dan budaya. Sehingga pembelajaran yang harus dilakukan bukanlah dengan cara menyeragamkan tetapi melalui pemberian stimulus dalam pembelajaran yang sesuai dengan ketiga aspek tersebut, sehingga hasil dari pembelajaran tersebut berbuah dengan tumbuhnya peserta didik sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.  Hal ini yang oleh Ki Hajar dikatakan bahwa kita hanya mampu membimbing anak-anak untuk tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri.

Membimbing untuk tumbuh sesuai dengan kodrat itulah yang menjadi salah satu tugas pokok yang sampai saat ini masih tetap saja ditemukan pendidik yang melakukan hal sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran masih saja terus terfokus pada guru sehingga peserta didik tetap saja menjadi objek dalam pembelajaran, kurikulum serta muatan pelajaran yang juga seolah-olah diseragamkan sehingga peserta didik pada akhirnya akan kesulitan karena apa yang diajarkan tidak sesuai dengan kehidupannya, sehingga itu bisa saja menjadi indikasi akan adanya proses terselubung dalam membentuk manusia untuk kepentingan golongan tertentu. Ini yang disebut freire sebagai pendidikan gaya bank.

Dengan pertimbangan seperti tersebut maka akan diharapkan membentuk suatu sekolah yang penulis sebut sekolah teduh. Sebagai sekolah yang benar-benar menjadi tempat nyaman dan juga sesuai dengan kebutuhan peserta didik, bukan sekolah dengan segudang muatan pembelajaran yang sama sekali tidak kontekstual dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Sekolah seperti itu akan lebih mengenalkan peserta didik kepada kebutuhan-kebutuhan kontekstualnya. Melalui pengajaran yang benar-benar berbasis ralitas dunia maka anak akan sadar terhadap keberadaan realitas diluar dirinya. Hadirnya pemahaman seperti itu maka anak akan dapat belajar dengan senang serta akan terbangun kesadaran kritis atas segala yang terjadi disekitarnya.

Roem dalam bukunya Sekolah Itu Candu menggambarkan senangnya peserta didik di suatu sekolah di suku Bajo karena mereka dihukum gurunya untuk mencari ikan di laut. Itu disebabkan karena letak kehidupan mereka amat sesuai dengan kegiatan tersebut sehingga mereka bnar-benar merasakan kesenangan dengan melakukan hal tersebut. Inilah salah satu contoh bahwa ketika misalnya sekolah dengan letak geografis seperti itu juga memiliki penekanan materi pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan, kebutuhan, serta kemajuan zaman maka anak-anak akan merasa cukup senang untuk menjalani sekolahnya. Sekolah semacam itulah yang harus digalakkan pembangunannya. Melalui pembelajaran-pembelajaran tersebut dan dengan system persekolahan seperti itu maka peserta didik akan merasa teduh berada di sekolah, menjadi senang terhadap pembelajaran, serta akan muncullah kesadaran kritis terhadap segala yang terjadi di lingkungannya. Keteduhan dari sekolah akan bermuara pada terbentuknya manusia-manusia yang berkualitas.

Penulis: Ahmad Muzawir Saleh atau akrab disapa EL merupakan mahasiswa UIN Alauddin Makassar, dan juga aktif sebagai Sekretaris Umum DEMA FTK UINAM

Mungkin Anda Menyukai